Selasa, 29 Januari 2013

Lembaga/Organisai Yang Mendorong Kewirausahaan

Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) harus diakui merupakan penopang utama perekonomian Indonesia. Tidak dilihat dari besarnya nilai aset yang berputar, tapi dilihat dari besarnya jumlah pelaku UMKM. Banyaknya pelaku UMKM yang mencapai 99% dari total 52,769 juta pelaku usaha di Indonesia inilah yang berhasil mengeluarkan bangsa ini dari krisis ekonomi yang terus mendera sejak 1998.
Roda perekonomian terus berputar karena UMKM hanya membutuhkan aset paling besar hanya Rp 10 miliar. Bahkan usaha mikro aset maksimalnya cukup Rp 50 juta hingga usahanya bisa terus bergerak walaupun tertimpa krisis.
Hal inilah yang akan terus dipertahankan oleh pemerintah. Melalui berbagai program, pemerintah terus mendorong lahirnya para wirausahawan baru yang diharapkan mampu menggerakkan sektor informal seperti UMKM. Saat ini, masyarakat lebih memilih untuk bekerja di sektor formal, sehingga pertumbuhan wirausahan di Indonesia masih sangat minim.
Pertumbuhan wirausaha di Indonesia ternyata masih di bawah 1%, jauh dibandignkan Singapura yang mencapai 7%. Untuk memacu tumbuhnya kewirausahaan ini dinilai perlu ada komitmen dan deklarasi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai gerakan nasional.
Hanya kemampuan wirausaha yang bisa mempercepat bangsa ini menyelesaikan kemiskinan dan pengangguran yang semakin meningkat. “Dengan mengubah sistem pendidikan yang bersifat hafalan ke pendidikan kreatif ditambah kewirausahaan, dalam satu generasi ke depan Indonesia akan punya banyak orang muda yang mampu menciptakan peluang kerja,” kata Ciputra, pendiri Univeristas Ciputra Entrepreneurship Center di Jakarta.
Ciputra mengatakan tumbuhnya budaya wirausaha di negara ini jangan dimaknai hanya untuk kepentingan dunia usaha. Masyarakat yang memiliki budaya dan karakter wirausaha yakni pencipta peluang, inovatif, dan pengambil resiko, itu juga dibutuhkan kalangan birokrasi, akademik, dan sosial.
“Budaya wirausaha dalam suatu negara bisa kuat karena memang dilahirkan, lingkungnan, dan latihan. Di Indonesia kan tidak punya budaya wirausaha itu lewat pendidikan dan pelatihan. Gerakan budaya wirausaha ini dilakukan di sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat,” jelas Ciputra.
Sementara itu, Kementrian Koperasi dan UKM, pada tahun 2010, sudah melakukan berbagai terobosan untuk mendorong lahirnya wirausahawan muda. Salah satunya adalah program 1.000 Sarjana wirausaha.

Hingga akhir tahun 2010, Program 1.000 Sarjana Wirausaha Baru yang digagas Kementerian Koperasi dan UKM tahun ini telah mencapai 67%, dari sasaran dan sebagian diantaranya sudah difasiliasi dengan menyalurkan permodalan usaha. Neddy Rafinalldy Halim, Deputi Bidang Pengembangan Sumberdaya Manusia Kementrerian Koperasi dan UKM, menjelaskan meski demikian pihaknya terus berupaya meningkatkan kinerja, termasuk sosialisasi maupun pelatihan.
“Program 1.000 Sarjana Wirausaha Baru itu sebenarnya hanya menjadi tema besar program, sedangkan target sebenarnya adalah menciptakan wirausaha dari kalangan terdidik dalam jumlah tidak terbatas,” ujarnya kemarin. Sosialisasi dilakukan melalui dua skema, yakni terhdap para sarjana yang baru lulus, dan terhadap mahasiswa yang masih aktif. Untuk sosialisasi bagi alumnus sudah mencapai 7.200 orang sedangkan sosialisasi bagi mahasiswa mencapai 8.000 orang.
Menurut Neddy, sampai saat ini para alumni yang telah mengajukan proposal permodalan dengan sektor usaha berbeda-beda, mencapai 1.600 orang. Namun, yang telah diberikan pelatihan terhdap kewirausahaan, mencapai 647 orang atau sekitar 67%.
Meski demikian, dari jumlah 674 yang sudah menerima pelatihan, yang benar-benar telah menerima bantuan permodalan baru 70 orang. Dana yang diserap dalam program ini sekitar Rp. 1 miliar. Adapun modal yang mereka ajukan sangat bervariasi mulai dari Rp 5 juta, Rp 10 juta, hingga Rp 25 juta.
Keperluan para calon wirausaha sarjana tersebut disesuaikan dengan bidang usahanya masing-masing. Sekitar 213 sarjana tengah menunggu proses pencairan permodalan kerja dari Kementerian Koperasi dan UKM.
“Jika mereka sudah melengkapi berbagai dokumen untuk merealisasi penyaluran permodalan, kami akan segera mencairkannya,” kata Neddy.
Terkait dengan sosialisasi yang diberikan kepada mahasiswa, tidak terkait dengan penyediaan permodalan. Sosialisasi dimaksudkan sebagai satu sarana agar pola pikir mereka bisa berubah dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan pekerjaan.
“Langkah sosialisasi perlu dilaksanakan secara dini, agar mereka para mahasiswa tetap fokus pada agenda kerja pemerintah untuk menciptakan para wirausahawan dari kalangan terdidik strata sarjana atau S1.”
(Source: “Majalah Logis”. Edisi khusus 2011).

Program-program dalam kewirausahaan

 Kegiatan wirausaha atau entrepreneur terus berkembang pesat dari waktu ke waktu, seiring meningkatnya keinginan masyarakat untuk menyejahterahkan dirinya.
Hal itu, sejalan dengan rencana pemerintah maupun pihak swasta yang giat menggalakkan program pengembangan wirausaha nasional agar bisa bersaing dengan pihak asing dalam mendukung pertumbuhan ekonomi ke depan.
Melihat perkembangan pesat ini, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengungkapkan, jumlah wirausaha baru hingga 2025 ditargetkan akan bertambah sebanyak lima juta orang.
"Sampai 2015, direkomendasikan peningkatan jumlah wirausaha baru 500 ribu per tahun atau lima juta hingga 2025," kata Darmin Nasution, dalam acara 'Global Entrepreneurship Week' di Jakarta, Senin 12 November 2012.
Bank Indonesia, mulai tahun ini melakukan program kerja 'Penciptaan Wirausaha Baru'. Sebagai proyek percontohan program ini, selain dilaksanakan di kantor pusat BI juga dilaksanakan di tujuh Kantor Perwakilan Bank Indonesia yaitu Surabaya, Bandung, Semarang, Makassar, Denpasar, Palembang dan Yogyakarta, dengan target kelompok yang dipilih adalah mahasiswa, eks Tenaga Kerja Indonesia dan juga masyarakat umum. 
Khusus untuk di kantor pusat, target yang dipilih adalah kelompok mahasiswa dari empat perguruan tinggi yaitu Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulllah. 
Darmin mengaku bahwa pihaknya telah memberikan perhatian yang lebih untuk kegiatan wirausaha. Salah satunya dengan memberikan bantuan dana sosial senilai Rp3 miliar. Dana ini rencananya digunakan untuk membantu para wirausaha dalam mengembangkan usahanya. 
Bank Indonesia, kata Darmin, juga menyambut baik program tanggung jawab sosial sejumlah perusahaan seperti Ciputra Group yang memberikan perhatian lebih pada kegiatan wirausahawan muda. Sebab, kegiatan ini dapat memajukan kegiatan ekonomi Indonesia.  

Viva News

Senin, 28 Januari 2013

Social Entrepreneurship

Social Entrepreneurship merupakan sebuah istilah turunan dari kewirausahaan. Gabungan dari dua kata, social yang artinya kemasyarakatan, dan entrepreneurship yang artinya kewirausahaan. Pengertian sederhana dari Social Entrepreneur adalah seseorang yang mengerti permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan entrepreneurship untuk melakukan perubahan sosial (social change), terutama meliputi bidang kesejahteraan (welfare), pendidikan dan kesehatan (healthcare) (Santosa, 2007). Sesungguhnya Social Entrepreneurship sudah dikenal ratusan tahun yang lalu diawali antara lain oleh Florence Nightingale (pendiri sekolah perawat pertama) dan Robert Owen (pendiri koperasi). Pengertian Social Entrepreneurship sendiri berkembang sejak tahun 1980 –an yang diawali oleh para tokoh-tokoh seperti Rosabeth Moss Kanter, Bill Drayton, Charles Leadbeater dan Profesor Daniel Bell dari Universitas Harvard yang sukses dalam kegiatan Social Entrepreneurship karena sejak tahun 1980 berhasil membentuk 60 organisasi yang tersebar di seluruh dunia.

Tokoh tokoh Wirausahawan Yang Sukses

Banyak tokoh inspiratif yang dapat dijadikan cermin. Tidak hanya di luar negeri, di dalam negeri pun banyak tokoh inspiratif dalam bisnis maupun industri kecil yang dapat Kita jadikan contoh. Berikut 10 Tokoh inspiratif maupun inspirasi bisnis termasuk industri kecil yang patut dijadikan contoh.
1. Aburizal Bakrie
Siapa yang tidak mengenal tokoh inspiratif yang satu ini. Ical dan keluarga yang dikenal sebagai pemilik Bakrie & Brothers ini mempunyai prinsip bahwa setiap sen yang dihasilkan dari usahanya haruslah berguna untuk masyarakat. Ical saat ini dikenal sebagai salah satu pemegang saham Grup Bakrie. Selain itu untuk bisa sukses mereka memegang prinsip profesional dan yang pasti yang harus diterapkan juga adalah nasionalistik.
2. William Wongso
Pemilik nama lengkap William Wirjaatmadja Wongso ini Kita kenal sebagai tokoh inspirasi dalam dunia kuliner. Siapa sangka tokoh yang satu ini ternyata mengawali karier di bidang film dan juga fotografi. Namun seiring waktu, lelaki yang satu ini mulai mencintai dunia kuliner. Bukan tanpa alasan, berkat keahlian masak sang ayah akhirnya menumbuhkan kecintaan terhadap dunia kuliner. Keahlian memasak Wongso tidak didapatkan dari pendidikan forml yang sengaja ditempuh, melainkan dari belajar langsung kepada pemilik-pemilik warung yang ada di pinggir jalan bahkan belajar pada penyaji makanan yang ada di restoran dan juga hotel-hotel berbintang. Banyak belajar dari hal-hal inilah, keahlian Wongso semakin terasah. Saat ini beliau telah memiliki usaha di bidang kuliner seperti usaha bakery (Vineth Bakery), kafe (William Kafe Artistik) serta catering (William Gourment Catering). Penghargaan dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi pun diperolehnya pada tahun 2008.
3. Santosa Doellah
Tokoh inspiratif yang satu ini memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap batik. Usaha batik tersebut sudah ditekuni sejak tahun 1967. Usaha batik ini dimulai dari batik tangan dan juga batik tulis. Namun seiring perkembangan usaha, batik tersebut berkembang menjadi batik cap. Pada tahun 1968 batik tersebut diberi nama “Danar Hadi’. Usaha batik yang digeluti oleh Santosa Doellah ini dimulai dari nol hingga berkembang seperti sekarang.
4. Sandra Natalia
Perempuan yang satu ini memiliki salon kecantikan yang khusus untuk merawat kuku-kuku tangan dan kaki. Usaha yang baru dirintis dalam hitungan tahun ini berawal dari kesenangan dan hobinya mengoleksi pewarna kuku dengan berbagai merek sejak kecil. Usahanya yang dilakoni bernama Blossomnails.
5. Yoris Sebastian
Pebisnis yang satu ini usianya masih sangat muda, bisa dikatakan memiliki segudang prestasi yang membanggakan. Di usianya yang 38 tahun, sudah pernah menyandang gelar sebagai GM Hard Rock Cafe termuda di kawasan Asia dan termuda kedua di dunia.
6. Hidayat
Tokoh inspiratif yang satu ini berhasil mengubah sampah yang awalnya tidak memiliki nilai guna menjadi sangat berguna dengan menghasilkan produk-produk yang siap pakai. Produk ini diantaranya pupuk organik dan juga biomassa. Melalui PT. Mitratani Mandiri Perdana atau Mittran lah Hidayat mengembangkan bisnisnya.
7. Jusuf Kalla
Politikus yang satu ini ternyata juga lihai dalam berbisnis. Usaha warisan keluarga yang diteruskannya ini pada awalnya bergerak di bidang tekstil dan berkembang seperti sekarang ini. Usaha keluarga Kalla dikenal dengan NV Hadji Kalla Trading Company.
8. Alim Markus
Tokoh yang satu ini Kita kenal melalui industri manufaktur bidang peralatan rumah tangga (Maspion).
9. Chairul Tanjung
Baginya dalam mencari uang tidak perlu merusak tapi membangun. Dengan prinsip seperti inilah Chairul Tanjung berhasil mengembangkan bisnisnya di bidang perbankan (Bank Mega) dan juga pertelevisian (Trans TV dan Trans 7).
10. Rosidah W. Utami
Siapa bilang wanita tidak dapat berkarya? Inilah yang coba dibuktikan oleh Rosidah W. Utami yang memulai industri kecil di bidang kuliner dengan menawarkan kue donat kampung. Dimulai dari bisnis kecil-kecilan dan kini berkembang pesat. Donat Kampung Utami yang digelutinya saat ini sudah dikenal banyak orang.


Rencana Pengembangan Usaha

Pengembangan dari usaha yang saya pilih akan saya kembangkan dengan cara memperluas wilayah pasar, jadi bila saya menjual hanya ke teman-teman saya tapi sekarang saya akan memperluas kepada semua orang yang meyukai fashion dan accesories

Rencana SDM dan Organisasi

Usaha yang saya buat ini masih usaha saya sendiri, yang terjun langsung ke usaha sendiri dan semua nya masih saya sendiri yang menangani, bila usaha saya besdar dan mempunyai butiq sendiri saya akan merekrut pegawai untuk membantu saya menangani nya.

Rencana SDM dan Organisasi

Usaha yang saya buat ini masih usaha saya sendiri, yang terjun langsung ke usaha sendiri dan semua nya masih saya sendiri yang menangani